Iklan 160x600

Pendekar KPU, Jurus Seneor, dan Kitab Rahasia Konfercab Icis

Foto AI hanya ilustrasi, bukan sebenarnya.

SURABAYA – Gelanggang akhirnya ditutup.

Konferensi Cabang (Konfercab) XLIV Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Surabaya sudah menentukan pendekarnya. Nama yang keluar sebagai pemenang adalah Roisatul Muttaqin Alalloh, alias Icis, kader PMII Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Palu sudah diketuk. Sabuk juara sudah disematkan.

Para pendekar yang kalah mungkin sedang menghitung luka, sementara para pendekar yang menang mulai menghitung langkah menuju babak berikutnya.

Tapi dalam dunia persilatan, kemenangan seorang pendekar sering kali justru melahirkan pertanyaan baru.

Dari mana ilmu silatnya?

Siapa gurunya? Siapa yang mengajarinya jurus?

Dan yang paling bikin penonton penasaran: apakah ia bertarung sendirian di tengah gelanggang atau ada pendekar senior yang meniupkan mantra dari balik tirai?

Nah, di sinilah kisah Konfercab PMII Surabaya menjadi menarik.

Muncul nama seorang anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya berinisial SB.

Kalau sekadar kenal, tentu tidak ada masalah.

Kalau sekadar senior-junior, juga bukan perkara.

Kalau sekadar pernah ngopi bersama, apalagi. Kopi tidak pernah meminta KTP.

Tetapi informasi yang diterima redaksi menyebut adanya dugaan kedekatan atau komunikasi antara SB dengan sejumlah kader PMII yang dikaitkan dengan arah dukungan dalam kontestasi Ketua PC PMII Surabaya.

Dan di sinilah lonceng gelanggang mulai berbunyi.

Teng… teng… teng…

Pertarungan belum tentu curang. Tapi penonton mulai bertanya.

Sebab SB bukan pendekar biasa. Ia tercatat sebagai anggota KPU Kota Surabaya.

Lembaga yang pekerjaannya mengurusi pemilu, suara, kotak, surat suara, daftar pemilih, hingga segala macam perhitungan yang membuat orang bisa tersenyum atau menangis pada malam penghitungan.

Maka ketika seorang anggota KPU disebut berada dekat dengan dinamika perebutan kepemimpinan organisasi mahasiswa, wajar bila publik kemudian memasang mata lebih lebar.

Bukan untuk menuduh. Untuk bertanya. Karena bertanya itu gratis.

Dan selama pertanyaannya belum dijawab, ia akan terus berputar seperti jurus kipas naga.

Lebih menarik lagi, beredar informasi mengenai dugaan pembicaraan soal posisi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk Pemilu 2029.

Nah.

Kalau sudah sampai sini, cerita mulai berubah genre.

Tadinya film organisasi mahasiswa.

Sekarang seperti film silat politik.

Judul sementaranya:

“Pendekar Icis dan Kitab Pusaka PPK-PPS.”

Namun sekali lagi, jangan buru-buru percaya.

Karena kalau semua kabar langsung dianggap fakta, nanti tukang gorengan depan kampus bisa kita angkat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi.

Maka posisi yang paling sehat adalah: dugaan tetap dugaan sampai ada bukti.

Tetapi pertanyaan tetap pertanyaan sampai ada jawaban.

Dan sekarang, satu fakta sudah berdiri tegak di tengah gelanggang.

Icis menang.

Kader PMII Unesa tersebut berhasil memenangkan Konfercab XLIV PC PMII Surabaya.

Sementara sebelum dan selama proses konfercab berlangsung, forum sempat diwarnai kericuhan.

Ada ketegangan. Ada perbedaan kepentingan. Ada kubu-kubuan.

Namanya juga konfercab.

Kalau semuanya adem, mungkin namanya bukan konfercab, tetapi acara silaturahmi dan makan tumpeng.

Yang menjadi pertanyaan adalah: seberapa jauh pertarungan tersebut murni berlangsung di dalam gelanggang?

Sebab dalam dunia persilatan, ada pendekar yang terlihat di depan.

Ada pula guru silat yang tidak pernah masuk arena.

Ia cukup duduk di belakang.

Minum teh.

Mengelus jenggot.

Lalu berbisik:

“Muridku, keluarkan jurus terakhir.”

Tentu saja ini hanya perumpamaan.

Jangan sampai guru silat fiktif ini nanti dipanggil Bawaslu.

Namun justru metafora itulah yang membuat pertanyaan publik menjadi menarik.

Apakah SB benar-benar ikut memengaruhi arah dukungan?

Ataukah ia hanya memiliki hubungan personal dengan sejumlah kader?

Apakah pembicaraan mengenai PPK dan PPS benar-benar pernah terjadi?

Ataukah cerita itu hanya berkembang dari mulut ke mulut seperti mantra yang semakin jauh semakin sakti?

Semua membutuhkan jawaban.

Dan jawaban paling sederhana sebenarnya bukan mantra.

Konfirmasi.

SB dapat menjelaskan. KPU Kota Surabaya dapat menjelaskan.

Kader yang disebut mengetahui komunikasi tersebut dapat menjelaskan.

Pihak panitia Konfercab juga dapat menjelaskan.

Dengan begitu, publik tidak perlu menjadi pendekar detektif yang keliling Surabaya mencari jejak kaki di aspal.

Sebab yang dipersoalkan bukan kemenangan.

Yang perlu diperjelas adalah apakah ada tangan eksternal yang ikut memainkan jurus dalam proses menuju kemenangan tersebut.

Itu dua perkara berbeda.

Jangan dicampur seperti es teh dengan kopi.

Apalagi membawa nama institusi.

KPU adalah lembaga publik.

Karena itu, siapa pun yang menjadi bagian dari KPU tentu memiliki beban etik yang lebih besar dibanding pendekar biasa.

Semakin tinggi posisi seseorang, semakin panjang pula bayang-bayangnya.

Berjalan lima langkah, bayangannya bisa sepuluh meter.

Bercanda sedikit, publik bisa membaca serius.

Berkomunikasi biasa, orang bisa bertanya macam-macam.

Apalagi jika komunikasi tersebut bersinggungan dengan kontestasi kepemimpinan dan kemudian muncul cerita mengenai posisi penyelenggara pemilu.

Di situlah transparansi menjadi jurus paling ampuh.

Bukan jurus menghilang.

Bukan jurus mengalihkan perhatian.

Bukan pula jurus “saya tidak tahu apa-apa”.

Karena publik hari ini sudah terlalu canggih untuk dikalahkan dengan asap dupa.

Mereka punya WhatsApp.

Punya kamera.

Punya rekaman.

Punya grup.

Dan yang paling berbahaya:

punya ingatan.

Konfercab sudah selesai.

Namun kalau memang tidak ada intervensi, tidak ada permainan, dan tidak ada transaksi pengaruh, justru sangat mudah menjelaskannya.

Katakan saja:

“Tidak ada.”

Selesai.

Kalau memang ada komunikasi, jelaskan konteksnya.

Kalau memang ada hubungan senior-junior, jelaskan sebatas apa.

Kalau memang pernah berbicara soal PPK dan PPS, jelaskan dalam konteks apa.

Karena yang membuat kabar menjadi panjang biasanya bukan pertanyaannya.

Melainkan ruang kosong yang tidak segera diisi jawaban.

Dan ruang kosong itu sangat disukai rumor.

Ia tumbuh subur.

Seperti rumput selepas hujan.

Hari ini hanya “katanya”.

Besok menjadi “kabarnya”.

Lusa menjadi “sudah pasti”.

Minggu depan bisa-bisa berubah menjadi “semua orang sudah tahu”.

Padahal bukti belum tentu ada.

Karena itu, tulisan ini bukan vonis.

Bukan pula palu hakim.

Ini hanya sebuah lampu yang dinyalakan di sudut gelanggang.

Supaya siapa pun yang memang berada di sana dapat terlihat.

Jika benar tidak ada apa-apa, lampunya tidak perlu ditakuti.

Kalau ada yang bermain di balik tirai, setidaknya publik tahu tirainya harus dibuka.

Dan sementara semua pertanyaan itu belum terjawab, Icis tetap menjadi pemenang Konfercab XLIV PC PMII Surabaya.

Itulah fakta.

Sedangkan cerita mengenai pendekar senior dari Perguruan KPU?

Masih menjadi misteri.

Kitabnya belum dibuka.

Jurusnya belum terbukti.

Dan gurunya belum tentu guru.

“Wak, katanya Icis punya senior di KPU?”

“Punya senior itu biasa.”

“Katanya seniornya ikut main jurus?”

“Kalau benar, buktikan.”

“Kalau tidak benar?”

“Ya klarifikasi.”

“Kalau klarifikasi tidak datang?”

“Berarti cerita ini akan punya bab berikutnya.”

Dan begitulah dunia persilatan organisasi.

Pendekar sudah menang.

Gelanggang sudah bubar.

Tetapi penonton masih duduk di tribun.

Menunggu satu hal:

siapa sebenarnya yang meniup seruling dari balik padepokan?

Sebab pada akhirnya, dalam pertarungan demokrasi, kemenangan memang milik orang yang berhasil merebut sabuk. Tetapi legitimasi adalah milik mereka yang berani membuka seluruh kitab pertarungan.

Tanyakan pada kader PMII Surabaya, Masihkah PMII sebagai organisasi Kaderisasi sehat? atau jadi jembatan kerusakan moralitas karena ada Janji Politik?

Episode selanjutnya:

CHEK IN KING MATLUQ! SANG PENATA PPK? 

PKB & PENGHIANATAN PANGERAN AKIEZAWA!

 

Iklan 160x600

Suara Cakrawala Indonesia

Berani Suarakan Fakta