
Badung – Museum Pasifika di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, menghadirkan 47 karya seni dari 30 seniman perempuan yang berasal dari 12 negara melalui pameran internasional bertajuk Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi. Pameran yang dibuka pada Jumat (9/10/2026), ini menampilkan perjalanan seni perempuan lintas generasi, mulai dari pengaruh tradisi hingga perkembangan ekspresi kontemporer.
Pembukaan pameran diresmikan Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, H. Giring Ganesha Djumaryo, bersama Prof. Ir. Wiendu Nuryanti. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi para seniman perempuan untuk menyampaikan gagasan mengenai ingatan, identitas, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan lingkungan melalui berbagai medium seni.
Giring menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendukung ruang seni yang memperluas pengenalan karya perempuan, termasuk seniman dari Bali dan kawasan Asia-Pasifik. Ia menilai seni memiliki kekuatan untuk membangkitkan emosi, memengaruhi pengalaman manusia, serta menghubungkan seseorang dengan orang lain.
“Sebagai seorang seniman sendiri, saya sangat memahami kekuatan seni. Sebuah lagu, sebuah lukisan, keduanya dapat membuat kita jatuh cinta. Mereka dapat membuat kita merasa menang atau bahkan benar-benar hancur. Kebangkitan kita, emosi kita, dan mengingatkan kita dengan sesama,” ucap Giring.
Director of Operations Museum Pasifika, Laksmi Sugiri, menjelaskan bahwa pameran tersebut mempertemukan seni modern dengan praktik kontemporer. Tema Nostalgia = Transendensi menggambarkan proses pengolahan pengalaman masa lalu, tradisi, dan pengetahuan budaya menjadi ekspresi artistik baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pameran ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni The Beginning, Memory & Identity, dan Transformation. Bagian pertama menampilkan karya modern yang merekam kehidupan, lanskap, serta kebudayaan. Bagian kedua mengeksplorasi ingatan personal, keluarga, dan identitas. Sementara itu, bagian ketiga memperlihatkan transformasi warisan budaya ke dalam beragam bentuk ekspresi seni.
Karya yang dipamerkan tidak terbatas pada lukisan dan patung, tetapi juga mencakup tekstil, bordir, tenun, instalasi, suara, dan tubuh sebagai medium ekspresi. Keberagaman tersebut memperlihatkan cara seniman perempuan menerjemahkan pengalaman dan perspektif mereka melalui pendekatan artistik yang berbeda.
Seniman Bali, Mangku Muriati, turut berpartisipasi dengan menghadirkan lukisan bercorak Kamasan yang mengangkat flora dan fauna. Karyanya menggambarkan keterkaitan manusia dengan alam serta nilai keseimbangan kehidupan dalam kebudayaan Bali. Keikutsertaannya juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya dan gagasan perempuan kepada khalayak internasional.
Perspektif lain disampaikan seniman Luh De Gita melalui karya yang mengangkat representasi perempuan Bali dalam industri pariwisata. Ia menyoroti kecenderungan perempuan, khususnya penari yang berkaitan dengan tradisi sakral, ditampilkan sebagai simbol eksotisme. Karyanya mempertanyakan cara pandang yang menjadikan tubuh perempuan dan tradisi sebagai daya tarik visual tanpa mempertimbangkan dimensi sejarah, budaya, dan spiritualitasnya.
Founder Museum Pasifika, Philippe Augier, turut menyoroti kontribusi seniman perempuan dalam sejarah seni, terutama generasi yang berkarya ketika perempuan belum memperoleh pengakuan setara. Jejak sejumlah seniman yang terlibat dalam perjalanan seni tersebut juga tercatat dalam koleksi institusi internasional, seperti The Metropolitan Museum of Art, British Museum, National Gallery Singapore, National Gallery of Australia, dan Art Institute of Chicago.
Pembukaan pameran turut dilengkapi kegiatan Artists Talk yang menjadi wadah berbagi pengalaman, proses kreatif, dan gagasan di balik karya yang ditampilkan.
Pameran Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi berlangsung hingga 9 Desember 2026. Masyarakat dapat mengunjungi pameran tersebut setiap hari pukul 10.00–18.00 WITA di Museum Pasifika, kawasan ITDC, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.*red




