Iklan 160x600

Pemkot Surabaya Koordinasikan Pemasangan Sensor Monitoring Sesar

Pemkot Surabaya koordinasikan pemasangan sensor monitoring sesar
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan koordinasi pemasangan sensor monitoring sesar di Surabaya, 12 September 2026.

Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengoordinasikan rencana pemasangan alat sensor monitoring untuk memantau aktivitas sesar yang melintasi wilayah Kota Surabaya. Langkah tersebut dilakukan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai bagian dari upaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, koordinasi dengan ITS telah dilakukan untuk membahas kebutuhan alat sensor, termasuk lokasi pemasangannya. Pembahasan tersebut masih berada pada tahap koordinasi. “Kita sudah koordinasikan dengan teman-teman ITS terkait alat sensor ini,” kata Wali Kota Eri, Sabtu (12/9/2026).

Eri menjelaskan, keberadaan sesar di Surabaya bukan kondisi baru. Kota tersebut dilalui dua segmen sesar, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru yang merupakan bagian dari sistem sesar di Pulau Jawa.

“Dari dulu sesar itu sudah ada ya. Ada Sesar Waru sama Sesar Surabaya. Ada yang melewati beberapa wilayah. Karena itu kemarin saya minta untuk Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) melakukan sosialisasi,” tuturnya.

Menurut Eri, pemasangan alat pemantauan perlu diiringi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai langkah penyelamatan ketika gempa terjadi. Edukasi tersebut dinilai penting agar warga mengetahui jalur dan lokasi yang dapat digunakan untuk melakukan evakuasi.

“Nudzubillah min dzalik, kalau ada kejadian, maka evakuasinya seperti apa? Lari di mana? Itu sudah dilakukan Kepala BPBD. Karena memang Surabaya dilewati sesar dua itu, Sesar Surabaya dan Sesar Waru,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto mengimbau masyarakat tidak panik dengan keberadaan sesar tersebut. Ia menegaskan, adanya sesar tidak berarti gempa akan segera terjadi.

“Bukan berarti adanya sesar tersebut bakal terjadi gempa sekarang atau sebentar lagi. Tapi, masyarakat tetap penting untuk mengetahui risikonya,” kata Irvan.

Irvan menerangkan, jalur sesar tersebut membentang dari barat hingga timur Pulau Jawa dan di Jawa Timur dikenal sebagai Patahan atau Sesar Kendeng. Di Surabaya, Sesar Kendeng memiliki dua segmen, yaitu Sesar Surabaya dan Sesar Waru.

Karena itu, masyarakat diminta memahami potensi risiko serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan bencana gempa. “Kesadaran terhadap risiko bencana perlu dibangun mulai dari setiap individu,” imbuhnya.

Pemkot Surabaya melalui BPBD juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi kebencanaan di berbagai lingkungan, mulai dari kawasan padat penduduk, sekolah, hingga perkantoran. Informasi mengenai gempa dan kebencanaan lainnya juga diimbau diperoleh dari sumber resmi, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD.

“Kita terus lakukan (sosialisasi), setiap hari kita berjalan. Diminta atau tidak diminta, kita jalan untuk melakukan mitigasi,” pungkasnya.*red

Iklan 160x600

Suara Cakrawala Indonesia

Berani Suarakan Fakta