
Surabaya – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kebun Binatang Surabaya (KBS) memastikan seluruh satwa yang berada dalam pengelolaannya dalam kondisi sehat. Kepastian tersebut disampaikan di Surabaya, Senin (27/7/2026), sebagai bentuk komitmen lembaga konservasi dalam menerapkan standar kesejahteraan satwa atau animal welfare melalui perawatan yang berkelanjutan.
Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti, mengatakan kesehatan dan kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas utama di tengah berbagai informasi yang beredar di masyarakat. Menurutnya, KBS terus meningkatkan kualitas pemeliharaan, pelayanan kesehatan, serta pengayaan lingkungan bagi seluruh koleksi satwa.
“Kondisi satwa di KBS sampai dengan hari ini alhamdulillah dalam kondisi baik dan sehat. Kami selalu mengupayakan pemeliharaan maupun peningkatan kualitas secara berprogres dan berkelanjutan,” kata Nurika.
Ia menegaskan seluruh satwa memperoleh pakan, perawatan, dan pemeliharaan secara optimal sesuai prinsip animal welfare atau kesejahteraan satwa.
“Kami memberikan pakan, perawatan dan pemeliharaan satwa secara optimal sesuai dengan kaidah animal welfare atau kesejahteraan satwa,” tegasnya.
Menanggapi foto-foto satwa yang kembali beredar di media sosial, Nurika menjelaskan dokumentasi tersebut merupakan foto lama yang diunggah kembali dan bukan menggambarkan kondisi koleksi satwa KBS saat ini.
“Jadi itu adalah gambar yang di-upload kembali dan bukan koleksi satwa kami saat ini,” tuturnya.
Terkait isu kematian satwa, ia menyampaikan angka mortalitas di KBS masih berada dalam batas kewajaran serta tidak mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.
“Adapun terjadinya satwa mati itu pastinya sesuatu hal kematian yang normal, bukan menjadi suatu kematian yang dikarenakan kelalaian,” ujarnya.
Selain memastikan kesehatan satwa, KBS juga membangun kedekatan antara perawat dengan satwa melalui interaksi rutin. Langkah tersebut dilakukan agar perubahan perilaku satwa dapat dikenali lebih cepat sehingga penanganan medis dapat segera diberikan apabila diperlukan.
“Dengan harapan mereka akan lebih mengenal perilaku di saat adanya perilaku-perilaku khusus satwa itu nantinya. Misalkan memerlukan suatu penanganan atau perubahan, itu kegiatan rutin yang dilakukan oleh perawat satwa,” paparnya.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, KBS menerapkan pemberian pakan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari, dengan jenis serta jumlah yang disesuaikan berdasarkan spesies masing-masing satwa.
“Kita berikan (pakan) sehari itu dua kali, di pagi hari dan di sore hari sebelum para perawat satwa meninggalkan tempat,” katanya.
Kepala Departemen Animal Health Perumda KBS, drh. Rahmat Suharta, menambahkan seluruh satwa dipantau kesehatannya setiap hari. Tim medis akan segera melakukan penanganan apabila ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan.
“Jadi apabila ada yang mengalami kelainan atau kesehatan yang menurun langsung kita bisa tangani. Jadi untuk satwa-satwa di KBS ini sudah pasti dalam kondisi baik, tidak ada kekurangan makan,” ujar Rahmat.
Rahmat juga menepis anggapan bahwa satwa bertubuh ramping identik dengan kondisi kurang sehat.
“Kalau terlalu gemuk itu akan mengganggu kesehatannya, baik dari jantung maupun pernapasannya. Jadi tidak gemuk bukan berarti kurus, tetapi memang kondisinya normal,” katanya.
Ia menambahkan kebutuhan nutrisi satwa telah disusun sesuai standar masing-masing spesies. Selain pemberian pakan terjadwal, KBS juga melaksanakan vaksinasi setiap satu tahun sekali dan pemeriksaan feses secara berkala sebagai upaya pencegahan penyakit.
“Vaksinasi kita lakukan setiap 1 tahun sekali untuk mencegah terjadinya penyakit. Di samping itu juga kita lakukan pemeriksaan feses untuk mencegah terjadinya cacingan,” pungkasnya. (SCI)









