
Surabaya – Kelompok Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya mengembangkan plester gel alami atau hidrogel untuk membantu menangani memar dan bekas luka akibat tindakan transfusi darah pada pasien thalassemia. Inovasi tersebut berhasil lolos seleksi dan memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI).
Gagasan penelitian itu berangkat dari pengalaman Riadi Eka Putra, ketua tim riset, yang melihat langsung kondisi seorang temannya dengan thalassemia. Pasien harus menjalani transfusi darah secara rutin sehingga berulang kali mengalami suntikan atau pengambilan darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan area pembuluh darah mengalami memar, bengkak, nyeri, hingga berpotensi mengganggu jalur pembuluh darah.
“Inovasi ini sebenarnya berangkat dari pengalaman melihat teman saya sendiri. Dia mengidap thalassemia dan harus rutin transfusi darah setiap bulan. Namun, setiap selesai tindakan disuntik, tangannya sering sekali memar, bengkak, dan membiru. Kasihan melihatnya karena kulitnya belum sempat sembuh total, tapi sudah harus disuntik lagi di jadwal transfusi berikutnya. Dari situ kami berpikir, harus ada balutan luka yang tidak cuma menutup bekas suntikan, tapi juga bisa bantu meredakan memar dan menyembuhkan peradangan dengan cepat,” ujar Riadi saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, 8 September 2026.
Tim kemudian merancang plester aktif dengan memadukan ekstrak alga cokelat, lendir buah okra, dan gliserin. Alga cokelat digunakan untuk mendukung proses pemulihan area luka, sedangkan lendir okra dimanfaatkan untuk membantu meredakan peradangan sekaligus memberikan daya lekat yang lembut pada kulit. Gliserin ditambahkan untuk menghasilkan tekstur yang lentur dan transparan.
Karakter transparan tersebut memungkinkan kondisi area memar tetap dipantau tanpa harus membuka balutan. Pengembangan formulasi sempat mengalami kendala karena bahan alga pada tahap awal membuat lembaran plester mudah rapuh. Tim kemudian melakukan penyesuaian bahan hingga memperoleh lembaran yang lebih kuat, elastis, dan lembut ketika digunakan pada kulit.
Berdasarkan pengujian di laboratorium yang disebutkan dalam penelitian, formulasi dengan tambahan ekstrak okra menunjukkan hasil yang mendukung proses penyembuhan. Plester juga disebut mampu menyerap cairan luka dan membantu meredakan peradangan, serta memiliki ketahanan fisik yang baik untuk digunakan saat beraktivitas.
Dosen pembimbing tim, Cityta Putri Kwarta, S.T., M.Biomed, mengapresiasi kepedulian mahasiswa terhadap persoalan yang dihadapi pasien thalassemia.
“Saya sangat bangga dengan kepekaan dan inovasi mahasiswa kami. Harapannya, riset hidrogel berbasis bahan alam ini bisa terus berlanjut hingga jadi produk balutan luka lokal yang aman, ekonomis, dan betul-betul membantu pasien thalassemia,” tegas Cityta saat ditemui, 8 September 2026.
Selain mengembangkan produk di laboratorium, tim juga membagikan edukasi kesehatan melalui Instagram dan TikTok @hydrogel_hematoma. Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penanganan memar pada pasien yang menjalani transfusi darah.









